Thursday, June 27, 2013



JENIS DAN MACAM TERNAK SAPI DI INDONESIA

Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kekhasan Fisik Sapi Bali
Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
·         Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.
·         Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
·         Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.
·         Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).

Sapi Ongole
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah

Sapi Peranakan Ongole (P.O)
Sapi putih atau PO (Peranakan Ongole) merupakan salah satu jenis sapi yang paling banyak dicari di pasaran.
Harganya yang relatif murah, mudah perawatannya sekaligus mudah untuk dijual kembali.
Bobot hidup bervariasi mulai 200 kg hingga mencapai sekitar 450 kg.
Sapi PO adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina lo-kal di Jawa yang berwarna putih (Anonimus, 2003b). Saat ini sapi PO yang murni mu lai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi POdiartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik
Sapi PO pada hari normal berharga Rp.6.000.000 meningkat mencapai harga Rp.8.000.000-Rp.9.500.000. dengan bobot rata-rata 250-350 Kg.

Sapi Madura
Sapi Madura adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu (Hardjosubroto dan Astuti, 1994), yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak (Anonimus, 1987). Karak-teristik sapi Madura sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas ; bertanduk khas dan jantannya bergumba
Ciri-ciri umum fisik Sapi Madura adalah sbb: :
·         Baik jantan ataupun betina sama-sama berwarna merah bata.
·         Paha belakang berwarna putih.
·         Kaki depan berwarna merah muda.
·         Tanduk pendek beragam. Pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm.
·         Panjang badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.
Secara umum, Sapi Madura memiliki beberapa keunggulan seperti :
·         Mudah dipelihara.
·         Mudah berbiak dimana saja.
·         Tahan terhadap berbagai penyakit.
·         Tahan terhadap pakan kualitas rendah.
Dengan kelebihan-kelebihan  tersebut , Sapi Madura banyak diminati oleh  para peternak bahkan para peneliti dari Negara lain.  Sudah banyak Sapi Madura dikirim ke daerah lain, apabila tidak diperhitungkan dengan baik, bisa jadi populasi Sapi Madura di pulau Madura akan terkuras serta mengancam kemurnian ras-nya.
Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, memang mempunyai tempat yang khusus. Jasanya terhadap para petani tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanah pertanian yang tandus tetap dapat ditanami dengan bantuan Sapi. Alat transportasi yang sulit didapat dipedalaman Madura juga dapat teratasi dengan tenaga sapi yang di padukan dengan pedati, yang di sebut dengan “Sapi Pajikaran”.
Bukan hanya mempunyai tempat khusus di kehidupan para petani di Madura, Sapi Madura juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positip terhadap kelestarian Sapi Madura ini.  Sapi Madura berjenis kelamin jantan, dimanfaatkan sebagai  “Sapi Kerapan”, sebagai bagian dari budaya tradisi pertanian ,yang  nantinya menjadi salah satu aset pariwisata yang penting di tanah Madura

Sapi Brahman
Sapi Brahman adalah keturunan sapi Zebu atau Boss Indiscuss. Aslinya berasal dari India kemudia masuk ke Amerika pada tahun 1849 berkembang pesat di Amerika, Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia dan kemudian masuk ke Indonesia pada tahun 1974.
Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan.
Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.
Sapi ini juga berkembang biak di Australia. Bahkan, para pembibit sapi di Australia melakukan persilangan sapi Brahman dengan bangsa sapi lainnya seperti Simmental, Herefod dan Limousin, hasilnya dikenal dengan nama sapi Brahman Cross, yang sejak tahun 1985 sudah masuk ke Indonesia melalui program bantuan Asian Development Bank (ADB). Sapi ini cocok dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis.
Sapi Brahman Cross pada awalnya merupakan bangsa sapi Brahman Amerika yang diimpor Australia pada tahun 1933. Mulai dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre Rockhampton Australia, dengan materi dasar sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25% (Turner, 1977), sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman cross cenderung lebih mirip sapi Brahman Amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.
Sapi Brahman Cross mulai diimport Indonesia (Sulawesi) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, Calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 Kg (jantan) dan 138,3 Kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 Kg/ hari (Hardjosubroto, 1984)
Pada tahun 1975, sapi Brahman cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman cross dari Australia untuk UPT perbibitan (BPTU Sembawa) dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Penyebaran di Indonesia dilakukan secara besar-besaran mulai tahun 2006 dalam rangka mendukung program percepatan pencapaian swasembada daging sapi 2010.
1 Jarak beranak 531,1 hari
2 Berat Lahir 26,26 Kg
3 Berat Sapih 100,1 Kg
4 Berat Setahun 289,5 Kg

Sapi Limosin
Sapi Limousin adalah bangsa Bos turus (Talib dan Siregar, 1999), dikembang-kan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda
Bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak.
Keunggulan dari jenis sapi ini pertumbuhan baannya yang sangat cepat
Secara genetik, sapi Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Di Indnesia sapi limousin disilangkan dengan berbagai jenis sapi lain, seperti misalnya dengan sapi peranakan ongole, sapi brahman atau sapi hereford

Sapi Simmental
Sapi Simmental adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg
Bentuk tubuhnya kekar dan berotot, sapi jenis ini sangat cocok dipelihara di tempat yang iklimnya sedang
Persentase karkas sapi jenis ini tinggi, mengandung sedikit lemak.Dapat difungsikan sebagai sapi perah dan potong.
Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur.

Klaster Sapi Brangus

Oleh bapekon sragen   
Sabtu, 09 Agustus 2008 16:46
Sapi Brangus merupakan salah satu ciri khas sapi potong yang dikembangkan oleh Provinsi Jawa tengah khususnya di Kabupaten Sragen. Adapun Sapi Brangus yang dikembangkan di Kabupaten Sragen adalah merupakan jenis persilangan dari Sapi American Brahman dan Aberden Angus yang direproduksi secara Artificial Insemination (AI/Kawin Suntik/Inseminasi Buatan).

Pengembangan Sapi Brangus di Kabupaten Sragen sudah dilakukan sejak tahun 1981 dan telah ditetapkan sebagai Pusat Pembibitan Sapi Brangus satu-satunya di Jawa Tengah. Populasi Sapi Brangus di Kabupaten Sragen Tahun 2005 mencapai 7895 ekor yang tersebar di 20 kecamatan.

Semen beku yang disebarkan adalah produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang dan Ungaran.

KAWASAN PEMBIBITAN SAPI BRANGUS
Di Kabupaten Sragen sudah diinstruksikan sistem kawasan pembibitan Sapi brangus dengan kandang komunal, sedangkan sampai dengan tahun 2005 sudah ada 7 kawasan pembibitan, yaitu :
  1. Desa Pringanom, Kecamatan Masaran
  2. Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo
  3. Desa Dawung, Kecamatan Sambirejo
  4. Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung
  5. Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh
  6. Desa Tegalrejo, Kecamatan Gondang
  7. Desa Gringging, Kecamatan Sambungmacan
Disamping itu terdapat 5 kawasan pembibitan Sapi Brahman yang di IB dengan menggunakan semen beku Angus, yaitu :
  1. Desa Baleharjo, Kecamatan Sukodono
  2. UPTD Aneka Usaha Tanu (AUT) Desa Dawung, Kecamatan Sambirejo
  3. Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung
  4. Desa Girimargo, Kecamatan Miri
  5. Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang
KARAKTERISTIK SAPI BRANGUS
Sapi Berangus merupakan tipe dwiguna (dual purpose) jadi dapat berfungsi sebagai penghasil daging maupun penghasil susu. Sebagai penghasil daging, karkas Sapi Berangus di Kabupaten Sragen dapat mencapai + 53% dengan kualitas daging : Protein 11,5% dan Lemak 8,8% dengan lebel 14 dan dinyatakan sebagai daging baik (hasil uji Lab. BPPV Yogyakarta) sebagai penghasil susu, induk Sapi Berangus yang baru melahirkan mampu memproduksi susu sampai + 4 liter/ekor.
KELEBIHAN SAPI BRANGUS DIBANDING SAPI LOKAL ADALAH :
  • Mudah pemeliharaannya
  • Pertumbuhan cepat
  • Nafsu makan tinggi
  • Harga jual bibit tingi
  • Tahan terhadap udara panas dan lembab
  • Mau mengkonsumsi berbagai limbah pertanian
  • Tahan terhadap gigitan serangga/caplak (pink eye)
  • Tidak mengalami kesulitan dalam melahirkan
  • Mortalitas rendah
  • Menghasilkan pupuk kandang yang cukup banyak



A.   PENDAHULUAN
Lemak dan minyak secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian terbesar dari kelompok lipida. Trigliserida banyak terdapat dalam jaringan hewan dan tanaman. Trigliserida merupakan senyawa hasil kondensasi satu molekul gliserol denga tiga molekul asam lemak. Sedangkan digliserida dan monogliserida terdapat sangat sedikit pada tanaman.
Lemak yang berbentuk trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang berada dalam keadaan padat, sedangkan minyak berbentuk trigliserida yang dalam suhu ruang berbentuk cair.
Lemak dan minyak merupakan sumber kalori yang cukup tinggi yaitu sekitar 9 kilokalori/gram, sumer asam-asam lemak tak jenuh esensial (linoleat, linoleat), sumver alamiah vitamin-vitamin larut minyak (vitamin A, D, E, dan K).
Kandungan dan sifat fisikokimia lemak/minyak berbeda-beda yang tergantung dari sumbernya. Perbedaan jumlah, komposisi dan sifat fisikokimia dari minyak/lemak yang mendasari dilakukan analisis minyak/lemak baik secara kimia maupun menggunakan instrumen. Analisis lemak/minyak dapat dilakukan dengan analisis kadar lemak, analisis sifat fisikokimia lemak, analisis komposisi asam lemak yang terkandung dalam contoh lemak/minyak.

B.   DASAR TEORI
1.      KEKENTALAN DAN BAU
Uji kekentalan dan bau pada lemak yaitu minyak kelapa dan asam oleat menunjukkan bahwa minyak kelapa berupa ciran tidak terlalu kental dan berbau tidak pekat,asam oleat berupa cairan kental yang berbau tengik pekat. Sedangkan lemak murni itu tidak berwarna,tidak berbau dan tidak berasa. Mminyak kelapa dan asam oleat berbau dan berwarna disebabkan karena adanya figment-figment dari asalnya atau mengalami perubahan struktur disebabkan karena adanya figment seperti xanthophyl.
2.      KELARUTAN
Uji kelarutan yang dilakukan pada lemak menunjukkan bahwa minyak kelapa dan asam oleat yang dicampur dengan aquades ternyata lemek-lemak tersebut tidak larut dala air. Sedangkan minyak kelapa dan asam oleat yang dicampur didalam metilen klorida ternyata lemek-lemak tersebut dapat larut dalam metilen klorida. Hal ini disebabkan karena lemak dapat larut dalam pelarut organic yang non polar contohnya metilen klorida ini dan tidak larut dalam air.
3.      NODA LEMAK/SPOT TEST
Minyak kelapa yang dicampurkan pada tiga tetes larutan kloroform,ternyata semuanya menghasilkan noda pada kertas. Begitu pula noda asam oleat yang dicampurka pada kloroform ternyata juga menghasilkan noda pada kertas. Hal itu disebabkan karena lemak dapat noda yang sukar hilang walaupun lemak itu dapat larut dalam kloroform,tapi larutan itu tetep mengandung lemak sehingga kertas tersebut tetap bernoda.
4.      SAPONIFIKASI LEMAK/PENYABUNAN
Apabila lemak ditambah dengan NaOH dan etanol maka akan menghasilkan zat padat (sabun) setelah dipanaskan dan apabila zat padat itu dilarutkan dalam air maka akan menghasilkan buih/busa. Hal ini disebabkan karena lemak dapat dihidrolisa dengan dipanaskan pada temperature dan tekanan yang tinggi. Hidrolisa ini dilakukan dengan adanya penambahan basa kuat yaitu NaOH. Sehingga dihasilkan sabun yang terdiri dari gliserol dan garam. Sabun ini dapat larut dalam air sehingga dapat menghasilkan buih.
5.      UJI IKATAN RANGKAP
Minyak kelapa dan asam oleat yang sama-sama ditambah dengan KMnO4 membuat warna menjadi luntur menunjukan bahwa minyak kelapa dan asam oleat dapat melunturkan warna KMnO4. Karena KMnO4 diaddisi oleh ikatan rangkap dari lemak tak jenuh(minyak kelapa dan asam oleat).
6.      SIFAT EMULSI SABUN
Minyak kelapa yang dicampurkan kedala etanol ternyata menghasilkan ikatan larutan berwarna jernih agak keruh dan minyak kelapa dapat tidak larut dalam etanol tersebut. Begitu pula dengan minyak kelapa yang dicampurkan didalam kloroform juga menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan lemak tidak larut dalam kloroform,sedangkan minyak kelapa yang dicampurkan didalam Na2CO3 menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan lemak tercampur didalamnya dan yang terakhir minyak kelapa yang dicampurkan dalam didalam aquades ternyata tidak dapat larut dan berwarna putih. Minyak tidak larut dalam aquades dan karena berat jenis lemak cair (0.915-0,940) lebih rendah dari berat jenis air (1) sehingga lemak terapung.
7.      PEMBUATAN ASAM MINYAK
Larutan sabunyang diasamkan dengan HCl pekat ternyata tidak menghasilkan dua lapisan kare terlalu banyak gumpalan-gumpalan lemak. Hasilnya seharusnya terbentuk 2 lapisan, ini dikarenakan kemungkinan terlalu banyak larutan sabun.

C.   HASIL PENGAMATAN
NO
Jenis Larutan
Hasil Pengamatan
1
1 ml Aquades dan 1 ml Minyak Kelapa
Setelah kedua larutan dicampur, larutan minyak berada diatas. Setelah dikocok terjadi emulsisecara sempurna dan berwarna putih keruh, kedua larutan tercampur.
2
1 ml Bensin dan 1 ml Minyak Kelapa
Setelah kedua larutan dicampur, tidak terlihat lapisan dikedua larutan seperti tabung 1. Setelah dikocok tidak ada perubahan / larut sempurna.
3
1 ml Na2CO3 dan 1 ml Minyak Kelapa
Setelah kedua larutan dicampur, larutan minyak berada dilapisan atas terjadi seperti  tabung  1. Setelah dikocok terjadi emulsi  yang  hampir sempurna.
4
1 ml Eter dan 1 ml Minyak Kelapa
Setelah kedua larutan dicampur larutan minyak berada dilapisan atas seperti  tabung 1 dan tabung 3. Setelah dikocok kedua larutan menghomogensi sehingga terlihat seperti  1 larutan





D.   PEMBAHASAN
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapatdi alam serta tidak larut dalam air, tetapi larutdalam pelarutorganiknon-polar,misalnya  dietil  eter (C2H5OC2H5),Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyaipolaritas yang sama dengan pelarut tersebut.
Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi.Misalnyaasam lemakdalam larutanKOH berada dalam keadaanterionisasi danmenjadi lebihpolar dari aslinyasehingga mudahlarut serta dapat  diekstraksi    denganair.Ekstraksi asam lemakyangterionisasi ini dapatdinetralkan kembalidengan menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidakterionisasi dankembali mudahdiekstraksi denganpelaruton-polar.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atautriasgliserol,yangberarti “triester dari gliserol”. Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester . Hasil hidrolisis lemakdanminyakadalah asam karboksilat dan gliserol . Asam karboksilat inijuga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.

A.      KESIMPULAN
Percobaan mengenai lemak dapat diambil kesimpulan bahwa lemak tidak larut dan tidak mengemulsi dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut lemak yaitu cairan pelarut non polar seperti chloroform, eter, aseton dan sebagainya. Lemak mengemulsi saat dilarutkan dengan Na2CO3 dan air sabun yang telah dicampur dengan air. Wujud atau fisik antara lemak dan minyak berbeda pada saat uji fisik, kekentalan dan bau. Sebenarnya zat antara lemak dan minyak sama.